Jumat, 30 September 2016

Tips Agar Anak Gemar Membaca



Membiasakan anak membaca bukanlah perkara mudah, apalagi membangun minatnya untuk membaca perlu kerja keras orang tua dalam membujuknya. Membaca merupakan kegiatan yang bisa dikatakan sebagai kegiatan yang membosankan bagi anak, karena masa mereka adalah masa bermain. Setiap orang tua tentu menginginkan agar kegiatan anak dapat seimbang, bukan cuma bermain setiap saat namun perlu juga asupan pengetahuan bagi sang anak dengan bercerita ataupun membaca.

Merangsang anak agar suka membaca memerlukan beberapa cara agar minat anak perlahan tumbuh. Memberikan contoh kepada anak dengan rajin membaca adalah salah satu cara yang efektif yang harus dilakukan oleh  orang tua. Anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Jika orang tua mengingkan agar anaknya gemar membaca, luangkan sedikit waktu untuk selalu membaca setiap hari. Ajak perlahan dan temani anak untuk membaca buku yang ia sukai. Bicaralah hal-hal menarik yang ditemukan dari buku yang dibaca.

Berikan kesempatan pada anak untuk memilih buku yang mereka sukai. Pada umumnya, anak suka melihat buku bergambar, walaupun pada awalnya anak hanya melihat dan belum membaca, namun hal ini memberikan stimulus pada anak agar suka dengan buku. Selain itu orang tua dapat menemani anak membaca untuk memberikan penjelasan dan arahan dalam buku bacaan.

Fasilitasi anak dengan buku bacaan tokoh kegemaran mereka, misalnya anak suka dengan tokoh kartun yang ada pada televisi, lengkapi buku bacaan dengan tokoh kartun tersebut. Anak akan cepat tertarik untuk mengambil buku yang mengandung tokoh kegemaran mereka. Sesekali, orang tua juga dapat mengajak anak mereka ke toko buku untuk memilih sendiri buku bacaan yang mereka sukai.

Menjelaskan pesan-pesan dari buku bacaan dikaitkan dengan kehidupan anak. Sampaikan pesan moral yang dengan mudah dipahami anak. Hal ini dapat menamkan perilaku yang baik kepada anak dan memperluas wawasan anak dari buku bacaan.

Memberikan apresiasi dan penghargaan bagi anak ketika mereka telah suka dengan buku.  Memberikan reward kepada anak atas hasil usahanya akan menumbuhkan kepercayaan diri yang kuat kepada anak, sehingga mereka akan melakukan tugasnya lebih baik lagi. Latih daya kritis anak dengan menanyakan beberapa hal seperti “cerita mana yang adik suka?”, “cerita mana yang adik tak suka?”, dengan demikian akan melatih anak untuk menyampaikan apa yang ia pahami.

Hidari memaksa anak untuk membaca buku. Paksaan kepada anak tentu memiliki dampak psikologis, walaupun secara nyata mereka mengikuti perintah orang tua untuk membaca namun secara psikis anak tertekan dan berdampak pada pandangan anak bahwa membaca buku hanya sebatas menggugurkan kewajiban atas perintah orang tuanya. Lakukan pendekatan secara perlahan, walau anak belum tertarik dengan buku jangan dipaksakan.


Beberapa langkah diatas dapat dilakukan oleh orang tua untuk membiasakan anak gemar membaca. Kebiasaan membaca sejak dini akan memberikan kemudahan bagi seorang anak ketika dewasa. Kenali apa yang menjadi kesukaan anak, kaitkan kegemaran mereka dengan buku bacaan. Menghukum anak yang belum suka membaca bukanlah solusi untuk membuat anak gemar membaca, justru hal tersebut menjadikan anak takut untuk membaca. (Admin RA Mutiara Bunda)

Rabu, 28 September 2016

Pengobatan Demam Pada Anak



Demam pada umumnya sering terjadi pada anak karena sistem kekebalan tubuh mereka belum cukup kuat. Demam bukanlah sebuah penyakit tetapi adalah sebuah gejala yang menyebabkan sakit. Demam terjadi ketika sistem kekebalan tubuh sedang melakukan perlawanan terhadap infeksi. Seseorang dikatakan demam ketika suhu tubuhnya mencapai 37,5° C atau lebih. Untuk mengetahui demam yang terjadi pada anak, cara yang efektif adalah dengan memeriksa suhu tubuh anak menggunakan termometer, bukan hanya dengan meraba kening atau tubuh anak.

Penyebab terjadinya demam pada anak bisa dilihat dari beberapa hal mulai dari yang ringan hingga berbahaya diantaranya; Infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri atau virus seperti pilek, flu, hingga radang tenggorokan; Terjadi pertumbuhan gigi baru pada anak; Efek samping imunisasi; Sinusitis; Diare akibat makanan yang terkontaminasi (gastroentritis); Disentri; Tifus; Cacar air; Demam berdarah; Malaria dan lainnya. Beberapa penyebab demam tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua agar pengobatan yang tepat apakah sebaiknya ditangani medis atau dapat dirawat sendiri.

Pengobatan yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua saat anak mengalami demam adalah dengan memberikan banyak minum meskipun sang anak tidak haus. Hindari minuman yang mengandung kafein seperti minuman bersoda atau teh. Demam menyebabkan anak kehilangan cairan lebih cepat sehingga resiko terkena dehidrasi lebih tinggi. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan obat penurun demam seperti paracetamol agar anak merasa lebih nyaman dan tenang. Perhatikan aturan pakai dan dosis yang tertera pada kemasan.

Berikut merupakan langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi demam pada anak:
  • Pastikan suhu udara ruangan cukup baik. Berikan baju yang tipis agar panas tubuh bisa keluar.
  • Selalu memeriksa suhu tubuh anak secara teratur dengan termometer.
  • Buat lingkungan yang senyaman mungkin untuk anak dapat beristirahat. Anak biasanya akan rewel saat sedang mengalami demam.
  • Kompres dengan air biasa atau yang agak dingin.
  • Pastikan anak tidak merasa kedinginan atau kepanasan. Tutup dengan selimut secukupnya.
  • Berikan makanan yang mudah dicerna dan yang disukai anak. Pilih makanan yang menyehatkan tubuh.
  • Berikan obat-obatan sesuai dosis dan aturan pakainya. Tanyakan kepada dokter jika merasa ragu dan jangan menggabungkan obat-obatan tanpa mengetahui kandungan dan aturan pakainya.
Beberapa langkah diatas dapat menangani gejala demam ringan pada anak. Demam juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Sangat penting untuk mencari dan mengevaluasi gejala lain yang muncul bersamaan dengan demam. Disisi lain, demam juga bermanfaat pada sistem kekebalan tubuh anak. Meningkatnya suhu tubuh mempercepat produksi antibody dan menggandakan sel darah putih yang berfungsi untuk melawan mikroorganisme penyebab infeksi. Dalam hal ini, demam ringan bukanlah penyakit serius dan gawat. Demam semacam ini biasanya hilang dengan sendirinya. (Admin RA Mutiara Bunda)


Selasa, 27 September 2016

Lakukan Pertolongan Pertama Saat Anak Mengalami Mimisan



Anak lebih sering mengalami mimisan dibandingkan orang dewasa karena lapisan hidung anak terdapat pembuluh darah yang lebih rapuh dan mudah pecah. Kondisi tersebut biasanya dialami oleh anak yang berusia 3-10 tahun. Orang tua tidak perlu terlalu panik ketika terjadi mimisan pada anak, lakukan beberapa pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan pada hidung anak.

Mimisan pada anak dapat terjadi oleh karena pengaruh cuaca yang sedang kering atau kelembapan udara yang sedang rendah. Menghembuskan napas terlalu keras ketika buang ingus atau mengorek hidung terlalu dalam dapat menyebabkan mimisan pada anak. Penyebab lainnya adalah benturan pada hidung atau adanya benda asing yang masuk kedalam hidung. Dari keseluruhan penyebab, biasanya flu dan alergi terhadap cuaca dingin dianggap sebagai penyebab terjadinya mimisan.

Kehadiran orang tua maupun orang disekitar anak hendaknya melakukan pertolongan pertama pada anak diantaranya:

-          Tenangkan anak agar lebih mudah melakukan pertolongan.


-     Dudukkan anak dengan posisi kepala agak menunduk. Minta agar anak tidak bersandar untuk menghindari kemungkinan darah mengalir dari saluran hidung bagian dalam ke tenggorokan atau kerongkongan. Jika ini terjadi, kemungkinan dapat menyebabkan anak tersedak bahkan bisa mengalami batuk atau muntah.

-          Mintalah agar anak bernapas melalui mulut.

-          Tutup hidung menggunakan tisu atau lap dengan cara menekan bagian hidung yang lunak. Tekan bagian hidung yang lunak sekitar 10 menit dengan kekuatan tekanan yang stabil. Hal ini bertujuan untuk menghentikan pendarahan. Hindari memasukkan lap atau tisu kedalam hidung anak dengan maksud menghentikan pendarahan.

-          Setelah 10 menit, lepaskan, kemudian perhatikan apakah pendarahan sudah berhenti atau belum. Jika pendarahan belum berhenti, ulangi langkah tersebut.

Keadaan ini bisa menjadi serius dan harus segera ditangani oleh tenaga medis adalah ketika;

-          Telah melakukan pertolongan pertama dengan menekan hidungnya selama 10 menit, sebanyak dua kali, namun darah belum berhenti mengalir.

-          Anak tampak lemas dan pucat, sulit diajak berkomunikasi dan tubuh berkeringat.

-          Darah yang keluar diperkirakan sudah terlalu banyak.

-   Anak mengalami batuk atau muntah karena darah dari hidung terlanjur mengalir ke kerongkongan, lalu ke mulut dan mungkin tertelan.

-          Mimisan terlalu sering, yaitu lebih dari dua kali seminggu.

Pertolongan pertama tersebut setidaknya dapat dilakukan oleh orang tua maupun orang sekitar ketika terjadi mimisan pada anak. Sebagai orang tua hendaknya mengantisipasi agar anak tidak mengalami mimisan dengan mencegah anak memasukkan benda asing kedalam hidung, mengajari anak tidak menghembuskan napas terlalu kencang saat buang ingus, pastikan kuku anak bersih dan tidak panjang, dan senantiasa mengawasi anak bermain untuk mencegah benturan pada hidung anak. (Admin RA Mutiara Bunda)


Senin, 26 September 2016

Tips mengendalikan anak cengeng



Sudah sewajarnya bila seorang anak menangis, karena hal tersebut merupakan luapan emosional yang disampaikan sang anak ketika ia tidak dapat menjelaskan keinginannya ataupun tidak mendapatkan keinginannya. Hal ini juga bisa menjadi momen yang buruk jika anak menangis disuatu acara dan tidak mau berhenti menangis, karena semua pandangan tamu akan tertuju pada anak itu dan orang tua pun akan kepayahan untuk menenangkan anak. Namun bila anak sering menangis karena hal-hal yang sepele butuh tanggapan khusus bagi orang tua agar tidak terbawa hingga ia dewasa.

Pendekatan orang tua kepada anak yang sering menangis harus dilakukan dengan beberapa cara. Memarahi anak bukanlah solusi yang tepat untuk menenangkan anak, justru akan berdampak pada jiwa sosialnya dan bahkan saat ia dewasa. Ketika anak tersebut memiliki adik yang menangis maka dengan spontan ia akan memarahi adiknya untuk berhenti menangis. Ketika ia dewasa pun akan melakukan cara yang sama ketika anaknya menangis. Maka pendekatan orang tua kepada anaknya harus melihat kondisi psikis anak, karena anak selalu  mengikuti tingkah laku orang tua.

Mengajak anak berbicara menjadi salah satu pendekatan yang efektif bagi orang tua kepada anak yang menangis. Mencari tahu apa keinginan anak dengan berbicara perlahan dengan kalimat-kalimat positif seperti: “Coba bicara baik-baik adik mau apa?”, “Kalau kakak hanya menangis ayah bunda tidak tahu apa keinginanmu. Coba cerita baik-baik”, kalimat-kalimat tersebut akan membiasakan dan merangsang anak untuk bercerita atau mengutarakan keinginannya kepada orang tua lewat kata-kata bukan dengan tangisan.

Hindari pelabelan anak cengeng. Sebagai orang tua tentu akan merasa kebingungan mengatasi anaknya yang selalu menangis. Walaupun demikian, orang tua sebaiknya menghindari kata-kata “anak cengeng”, “dasar cengeng!” dan lainnya, karena akan mempengaruhi kepercayaan diri anak dan selalu beranggapan bahwa dirinya adalah cengeng. Kemandirian anak pun akan menurun karena ia tidak berani melakukan sesuatu dengan dirinya sendiri dan takut salah.

Batasi untuk memanjakan anak. Salah satu faktor anak selalu menangis adalah ia tidak mendapatkan keinginannya. Ketika anak menginginkan mainan disebuah market kemudian sang ibu tidak mengabulkannya maka anak akan menangis sepanjang perjalanan. Dalam hal ini, seorang ibu yang lebih mengetahui apa saja yang diperlukan anaknya. Menuruti keinginan anak bisa dilakukan sesekali dan hindari kebiasaan untuk memenuhi segala kemauan anak. Jika sang ibu selalu menuruti keinginan anaknya yang menangis, maka tangisan menjadi senjata utama anak untuk mendapatkan keinginannya dan ia akan terbiasa menjadi anak yang manja.

Memberikan pemahaman kepada anak juga menjadi cara untuk tidak memanjakan anak. Ketika anak menangis karena tidak terpenuhi keinginannya, tenangkan dahulu kondisi emosional anak. Setelah itu berikan pemahaman yang baik kepada anak seperti: “bunda sekarang belum bisa belikan itu, kalau bunda sudah ada uang nanti bunda belikan”, “mainan adik masih banyak dirumah, nanti saja ya beli yang itu”. Jelaskan kondisi-kondisi yang memungkinkan anak paham, namun orang tua pun harus konsisten dengan janji yang telah disampaikan kepada anak, agar anak mau memahami dan percaya kepada orang tuanya.


Beberapa tips diatas dapat mengendalikan anak yang sering menangis. Orang tua pun akan tenang bila anak mau berbagi cerita, menyampaikan keinginannya, bercanda ria bukan hanya menangis. Kondisi-kondisi semacam itu perlu dibentuk pada diri anak melalui pendekatan yang sesuai. Jika anak sudah nyaman dengan pendidikan didalam rumah, maka ia akan berbalas budi saat dewasa kelak. (Admin RA Mutiara Bunda)

Minggu, 25 September 2016

Tips Mendidik Anak Pendiam Agar Berani Bersosialisasi



Seorang anak akan terlihat karakteristiknya bila telah memasuki masa prasekolah. hal ini dikarenakan anak telah mulai mengenal lingkungan sekitar selain kedua orang tua dan keluarganya. Terkadang seorang anak memiliki karakteristik selalu bertanya ini itu tentang hal-hal baru yang dilihatnya, ada yang ceria saat bermain dengan teman sebayanya, dan ada pula yang hanya memperhatikan temannya bermain atau pasif.

Karakteristik anak pasif atau pendiam diperlukan pendekatan khusus agar anak tersebut mampu bersosialisasi dan bersahabat dengan rekan sebayanya. Anak yang pendiam cenderung menarik diri dari keramaian dan lebih memilih menyendiri dan melakukan kegiatannya sendiri. Isolasi diri ini sebaiknya diketahui oleh orang tua maupun guru agar tidak terbawa hingga dewasa. Disisi lain, diamnya anak bisa berarti karena ia malu atau takut dengan keadaan yang baru dikenalnya, namun hal ini bisa diatasi dengan memberikan dukungan secara terus menerus hingga anak merasa percaya diri dan berani bersosial dengan yang lain.

Seorang guru maupun orang tua perlu memahami kondisi psikologi anak dengan baik agar anak tersebut dapat dididik sesuai dengan karakteristiknya. Anak pendiam dapat diberikan stimulus dengan memilih teman yang lebih aktif. Kondisi semacam itu dapat memberikan pengaruh terhadap anak pendiam agar mulai berinteraksi dengan rekannya walaupun dalam lingkup yang kecil. Hal ini pun dapat diterapkan oleh gurunya di sekolah dengan memasangkan teman sebangku yang lebih aktif, namun bila sang anak tidak mau dipasangkan bisa diatasi dengan model belajar mini group.

Pola pengaturan kelas yang baik dapat mengefektifkan siswa baik dalam pelajaran maupun dalam hubungan sosial. Anak pendiam lebih menyukai grup yang sedikit karena secara tidak langsung perhatian guru terhadap semua anak dapat terbagi rata. Dalam lingkungan keluarga, orang tua perlu memberikan perhatian lebih agar anak pendiam dapat mulai terbuka dan mau berbagi cerita.

Memberikan tanggung jawab atau tugas kepada anak pendiam dapat menstimulus mereka agar mampu bersosialisasi. Tugas disini bukan berarti PR sekolah akan tetapi tugas yang berkaitan dengan tanggung jawab seperti: piket kelas, membukakan pintu rumah ketika ada tamu, dipasangkan dengan yang lebih muda ketika belajar kelompok. Tanggung jawab semacam itu dapat memberikan stimulus anak untuk berani bersosialisasi karena keseluruhan tanggung jawab tersebut berkaitan dengan interaksi kepada orang lain. Memberikan sanjungan dan apresiasi yang positif sangat mungkin untuk meningkatkan kepercaya dirian anak pendiam sehingga ia merasa dihargai dan berani untuk melakukan tanggung jawabnya dengan baik.


Beberapa tips diatas memberikan gambaran bahwa mendidik anak pendiam dibutuhkan kerjasama antara guru dan orang tua. Sinergi yang searah akan mampu membiasakan anak pendiam untuk bersosialisasi dengan orang lain. Penanganan tersebut dapat mengatasi psikologis anak yang akan berdampak saat dewasa kelak. Anak pendiam memiliki guncangan emosi yang lebih besar dibanding anak yang aktif, hal ini bisa berakibat ekstrim saat dewasa karena tidak bisa mengendalikan emosi dirinya sendiri hingga menyebabkan tindakan kriminal, pengrusakan hingga bunuh diri. Untuk itu, orang tua perlu mengetahui karakteristik setiap anaknya dan selalu berinteraksi agar pendekatan orang tua kepada anak tetap terhubung hingga anak dewasa. (Admin RA Mutiara Bunda Official Page)

Sabtu, 24 September 2016

Membentuk Karakter Anak Sejak Dini (Part 2)



Bimbingan orang tua yang intens terhadap anaknya dapat memberikan stimulus untuk membentuk kepribadian sang anak. Perlunya kesadaran orang tua dalam mendidik dan membentuk perilaku anak sejak usia dini, karena diera saat ini bangsa kita mengalami krisis moral yang sangat tinggi. Dimana anak sudah mengenal dunia maya dan gadget yang tidak ada batasan umur bagi penggunanya. Dampaknya pun akan mempengaruhi perilaku anak. Beberapa orang tua yang memiliki kesibukan cukup padat memandang bahwa gadget adalah cara terbaik untuk menenangkan anak, justru hal tersebut akan berdampak pada individualitas anak yang sangat tinggi.

Seorang anak akan mulai mengikuti tingkah laku orang disekitarnya pada masa memasuki usia 3-5 tahun. Sebagaimana  dijelaskan oleh Erikson (1963) dalam tahapan psikososial bahwasannya di masa play age anak memasuki tahapan inisiatif dalam berperilaku, artinya ia ingin melakukan sesuatu berdasarkan pengamatannya. Peran orang tua sebaiknya selalu membimbingnya dengan menanamkan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat seperti; membiasakan bertutur kata baik, rendah hati, pemaaf, tidak sombong, berempati dan lainnya.

Pada fase usia 5-12 tahun (school age) adalah fase dimana anak mulai mampu membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya. Dalam Islam, pada usia ini anak mulai ditegaskan dalam menjalankan Ibadah sholat yang menjadi kewajiban kaum muslim. Pada fase ini pun keuletan anak dalam menjalankan tugas yang diberikan sangat tinggi, karena usia anak telah memasuki usia sekolah yang mana interaksi anak sudah mulai keluar dari lingkungan keluarga menuju lingkungan sekolah. Dalam hal ini, peran orang tua mulai bersinergi dengan lingkungan sekolah dalam mendidik anak agar terbentuk kepribadiannya, bukan seutuhnya dipasrahkan kepada pihak sekolah dan menjadi tanggung jawab penuh oleh sekolah.

Peran antara orang tua dan guru menjadi tanggung jawab mereka pada fase school age. Menjalin komunikasi yang intens antara orang tua dan pendidik menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan kepribadian anak. Seorang pendidik dapat menjelaskan bagaimana perkembangan akademik anak, bagaimana jiwa sosial anak selama di sekolah, bagaimana perilaku terhadap teman-temannya dan hal yang berkaitan dengan aktifitas selama disekolah. Orang tua pun perlu mendidiknya kembali selama dirumah dengan memberikan nasihat, belajar bersama, membiasakan untuk bertanggung jawab terhadap tugas, bertutur kata dengan baik dan menjaga sopan santun kepada orang yang lebih tua.

Membiasakan perilaku-perilaku tersebut akan membentuk karakter anak sejak dini ia akan mampu menjaga dirinya ketika memasuki usia remaja. Pada fase pencarian jati diri (remaja) merupakan fase yang sulit dihadapi bagi orang tua karena anak telah mengenal lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Orang tua berperan sebagai figur yang dapat dicontoh oleh anaknya. Memberikan kasih sayang seutuhnya dan nasihat kepada anak dapat membuat anak merasa nyaman dan mampu menyaring perilaku mana yang baik untuk dilakukan dan yang perlu ditinggalkan. (Admin RA Mutiara Bunda Official Page)


Jumat, 23 September 2016

Membentuk Karakter Anak Sejak Dini (Part 1)


Membiasakan perilaku baik anak merupakan kewajiban orang tua sebagai sumber utama dalam membentuk kepribadian anak yang akan berguna dalam kehidupannya kelak. Seorang anak masih menjadi tanggung jawab orang tua hingga dewasa; baik dalam pendidikan, kesehatan, perilaku dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan anak. Disisi lain, pengaruh lingkungan sekitar perlu menjadi prioritas utama bagi orang tua untuk selalu mengawasi perilaku anak, karena lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi perilaku anak menjadi buruk begitu pun sebaliknya.

Membentuk karakter anak sejak dini dapat dimulai sejak usia bayi. Sebagaimana dijelaskan oleh seorang Psikososial asal Jerman, Erik Erikson (1963) dalam tahap psikososial menyebutkan bahwasannya pada masa usia bayi adalah bagaimana membangun rasa percaya kepada lingkungan bayi tersebut. Pada umumnya, bayi akan selalu menangis untuk mencoba berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, lingkungan terdekat dari bayi adalah orang tua. Pentingnya kepekaan orang tua dalam memahami kebutuhan bayi dan memberikan kasih sayang secara utuh agar bayi merasa nyaman dan terlindungi.

Pada masa ini juga, orang tua sebaiknya terus menstimulasi bayi dengan mengajak berkomunikasi, berkata positif, dan memberikan sentuhan fisik yang penuh kasih sayang. Berkomunikasi dengan bayi dapat menggunakan kata-kata positif yang mengandung makna semangat, motivasi dan memberikan apresiasi misalnya: pintarnya anak bunda, ayah dan bunda sayang kamu, duh cantiknya anak ayah dan beberapa kata positif lainnya. Dengan membiasakan komunikasi verbal kepada bayi akan membentuk karakter percaya diri yang kuat pada diri anak.

Menginjak masa berikutnya yaitu 1-3 tahun adalah masa membentuk rasa percaya diri anak. Biasanya beberapa anak masih menerka-nerka, malu dan takut untuk berinteraksi selain dengan orang tuanya. Hal ini dapat diatasi dengan selalu memberikan kata-kata positif kepada anak agar dapat mengontrol emosionalnya ketika bertemu orang lain. Penanaman tauhid pun dapat dilakukan sejak masa ini agar anak mulai mengenal sang Pencipta dan ajaran agama. Selain itu, pada masa ini juga merupakan masa eksplorasi dimana anak ingin mencoba segala sesuatu. Sebagai orang tua sebaiknya tidak membatasi ruang gerak anak karena akan berdampak pada kemandirian anak.

Pada tahap berikutnya saat anak menginjak umur 3-5 tahun adalah masa play age. Pada masa ini, seorang anak masih suka bereksplorasi dan ingin mengetahui segala sesuatu yang dilihatnya. Interaksi anak dan lingkungannya pun semakin luas, mulai dari berteman dengan anak lain, mulai banyak bertanya dan mulai meniru hal-hal yang baru. Pola asuh yang salah dapat menyebabkan anak merasa bersalah dan berdiam diri. Sikap tersebut justru akan membuat anak merasa takut salah untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, anak akan selalu berinisiatif untuk melakukan sesuatu dari rasa ingin tahu yang mereka alami.

Pendekatan dan pola asuh orang tua kepada anaknya perlu disesuaikan dengan tingkat kognitif anak, apakah anak sudah bisa dinasehati ataukan masih harus diarahkan dan dibimbing. Pola-pola semacam itu harus diketahui oleh orang tua agar tidak salah mendidik yang nantinya akan berdampak pada perilaku anak. Penanaman semua nilai-nilai karakter seperti keberanian, percaya diri, mandiri, tanggung jawab, santun, menghormati dan lainnya dapat dilakukan sejak anak mulai memasuki pendidikan awal (Pendidikan Anak Usia Dini) karena pada masa itu anak sudah bisa memahami apa yang disampaikan orang tuanya. (Admin RA Mutiara Bunda Official Page)